7 Fakta Kengerian Film Pengabdi Setan

Suksesnya film horor Indonesia yang berjudul Danur, lantas membuat para pelaku industri film horor dalam negeri kian makin tertantang untuk kembali membangkitkan kengerian film nusantara. Salah satunya adalah Joko Anwar yang saat ini tengah sukses ngegarap film horor remake berjudul Pengabdi Setan. Kabar baiknya, karya Joko ini menuai reaksi positif dari para penikmat film Indonesia. Film yang diadaptasi dari film berjudul sama asal keluaran 1982 ini, bisa dibilang, jadi barometer baru industri film horor Tanah Air. Berikut adalah trailer dari film pengabdi setan!

Berbeda dengan film horor lainnya yang lebih banyak adegan ngagetin, Pengabdi Setan sukses nampilin momen mencekam yang bikin penonton dihantui. Bahkan, setelah keluar dari bioskop, kengerian terus terbayang sampai rumah!

Nyatanya, kengerian enggak hanya terlihat pada filmnya. Banyak kejadian ganjil saat pengambilan gambar. Nah, kali ini gue bakal ngasih tahu fakta-fakta di balik pembuatan film Pengabdi Setan. Yuk, simak!

1. Film Horor Daur Ulang

Buat yang suka film jadul horor, pasti tahu bahwa Pengabdi Setan merupakan remake dari film horor Indonesia berjudul sama pada 1982. Bisa dibilang, film tersebut sukses dan ngeraih prestasi Box Office pada masanya. Makanya, Joko tertarik bikin film daur ulangnya dan menghadirkan kengerian versi baru tanpa mengubah keseluruhan cerita. Joko pun bergerak cepat menggarap pembuatan ulang Pengabdi Setan (Satan’s Slave) yang produksi oleh Rapi Films dan CJ Entertainment.

2. Enggak Pakai CGI

Menariknya, saat ngegarap film ini, Joko enggak ingin menggunakan teknologi CGI. Biar ngasih efek seram yang lebih nyata, sineas asal Medan ini menggunakan practical effect, salah satunya penggunaan make up. Joko menyiapkan practical effect yang lebih alami. Selain make up, penataan cahaya pun dibikin seadanya aja supaya unsur horor yang ditampilin lebih nyata. Luka dan efek seramnya dibuat terasa alami. Apalagi, syutingnya 70% dilakuin pada malam hari.

Selain itu, wilayah syuting pun benar-benar dijaga dan enggak ngelibatin banyak masyarakat atau pun kru produksi. Selain itu, demi menciptakan efek sepi dan seram yang terasa nyata, penghayatan alami dari para pemain jadi andalan.

3. Pemilihan Pemain Yang Selektif

Keseriusan Joko juga terlihat saat proses pemilihan pemain yang selektif banget. Bahkan, pencarian dilakuin hampir selama tiga bulan. Hal ini bertujuan karakter pemain film remake tersebut terkesan mirip dengan karakter pemain versi film jadul.

Pemilihan pemain utama merupakan salah satu proses yang cukup panjang dalam produksi film ini. Untuk setiap karakter, tim casting mengaudisi kurang lebih 30 orang. Menurut Joko, sebuah film horor bisa berhasil kalau didukung kemampuan para pemainnya dalam memainkan peran. Akhirnya, film yang diproduksi dalam waktu 18 hari ini dibintangi oleh :

  • Tara Basro sebagai Rini
  • Dimas Aditya sebagai Hendra
  • Bront Palarae sebagai Bapak
  • Endy Arfian sebagai Tony
  • Ayu Laksmi sebagai Ibu
  • Elly D. Luthan sebagai Nenek
  • Nasar Annuz sebagai Bondi
  • Arswendi Nasution sebagai Ustadz
  • Egy Fedly sebagai Budiman
  • M. Adhiyat sebagai Ian
  • Fachry Albar sebagai Batara
  • Asmara Abigail sebagai Darminah

4. Menggunakan Rumah Kosong Sebagai Latar

Selain pemilihan pemain yang butuh waktu lama, pemilihan latar pun butuh waktu yang cukup lama. Tim produksi berjuang keras mendapatkan rumah yang tepat sebagai latar film ini. Kabarnya, rumah yang digunakan dulunya merupakan rumah milik tuan tanah di perkebunan daerah Pengalengan, Jawa Barat. Konon, dikabarkan beberapa penampakan hantu Belanda berbaju putih yang katanya mirip dengan di film sering menampakkan diri.

Dilansir dari Detik, bangunan tersebut memang udah ada dari zaman Belanda sehingga strukturnya bangunannya pun kuat. Banyak warga yang enggan ngelewatin rumah tersebut dan memilih jalan lain. Karena rumah ini udah lama enggak ditinggalin, para kru pun harus merenovasi karena enggak layak huni, mulai dari lantai rumah yang jebol hingga banyaknya sarang burung dan kelelawar.

Kabarnya, setelah proses pengambilan gambar selesai, ada komunitas fotografi bernama Ghost Photography Club (yang memang doyan cari model astral alias hantu) mendatangi rumah lokasi syuting tersebut. Misi pembuktian adanya kejadian-kejadian janggal berawal dari sebuah video rekaman amatir yang mengungkapkan momen ganjil, yakni terdengarnya teriakan-teriakan anak kecil saat proses pengambilan gambar berlangsung.

5. Ngerinya Sosok Ibu

Banyak respons yang mengatakan bahwa sosok yang paling menyeramkan adalah sosok ibu. Ternyata, pemeran di balik karakter tersebut adalah Ayu Laksmi, seniman dan penyanyi asal Bali. Seniman favorit Joko ini, sebelum terpilih bermain di Pengabdi Setan, mengaku enggak memiliki modal sama sekali di dunia akting.

Uniknya, setelah menjajal dunia akting buat pertama kali, Ayu malah ketagihan dan berniat mendalami dunia seni peran meski usianya sudah menginjak 49 tahun. Ayu akhirnya direkomendasiin buat meranin karakter ibu, Mawarni Suwono sekaligus sosok hantu di film ini. Buat lo yang udah nonton Pengabdi Setan, pasti sepakat kalau sosok ibu dalam film ini mengerikan.

6. Kejadian Mistis Saat Syuting

Kabarnya, proses pengambilan gambar dari keseluruhan adegan diambil saat malam hari. Hal ini tentunya membuat film Pengabdi Setan menghadirkan suasana mencekam layaknya keadaan aslinya. Ditambah, suhu ketika malam hari bisa mencapai lima derajat Celcius dan sepi yang mencekam.

Akhirnya, atmosfer horor yang tercipta benar-benar mengerikan dan mencekam. Ini juga jadi aspek penting selain hadirnya “kejahilan” makhluk astral kepada para pemain dan kru produksi. Gue pun enggak bisa ngebayangin bagaimana ngerinya syuting film horor bareng “makhluknya”.

Selain itu, yang paling menyeramkan adalah suara yang diduga berasal dari makhluk astral yang enggak sengaja terekam dalam sebuah video. Kalau pengen tahu lebih lanjut, lo bisa tonton vlog Raditya Dika bersama Joko yang menceritakan kronologinya.

7. Mimpi Sang Sutradara

Joko butuh waktu yang lama, hampir 10 tahun buat ngeyakinin rumah produksi Rapi Films supaya ngasih kesempatan dirinya buat menyutradarai remake film Pengabdi Setan. Hal ini dilakuin oleh Joko karena dia begitu tertarik menyuguhkan kembali Pengabdi Setan. Dia sendiri sangat menggemari film aslinya yang dibintangi oleh Ruth Pelupessy tersebut.

“Sejak nonton film Pengabdi Setan, gua jadi pengen bikin film horor. Gua jadi cinta sama film horor. Gua benar-benar ngerasain kenikmatan nonton. Makanya, gua mau ngasih efek kayak begitu ke penonton,” ujar Joko kepada Bintang.

Nah, itulah fakta kengerian di balik proses produksi film Pengabdi Setan. Kalau pengen makin dibikin ngeri, lo harus nonton film ini. Memang, sih, film ini enggak sengeri film aslinya. Namun, lewat film ini, Joko sukses ngasih kengerian dari awal hingga akhir film. Terlepas dari itu, film Joko yang satu ini membuktikan kebangkitan film horor Indonesia yang semakin ngeri. Tentunya, tanpa ada adegan vulgar yang sempat bikin citra film horor dalam negeri jadi dipandang sebelah mata.