Deretan Film Yang Ngebuktiin Betapa Sulitnya Moveon

Ada yang bilang bahwa kalimat “Cinta sejati enggak pernah luntur” cuma mitos belaka. Lagi pula, apa susahnya, sih, move on? Tinggal cari cewek yang lebih baik daripada mantan, kelar deh perkara. Sayangnya, ada kalanya fisik udah move on, tapi hati masih rindu si dia. Nyatanya, itu bukan terjadi di kehidupan nyata aja. Karakter-karakter film pun ngerasain penderitaan tak berkesudahan akibat mendamba si dia yang bukan jodoh mereka.

Enggak percaya? Coba deh lo tonton film-film ini. Film-film tentang derita cinta sepanjang zaman di bawah ini bakal bikin lo sadar bahwa meskipun secara fisik lo udah bisa ninggalin dia yang lo cinta, hati lo belum tentu ngelakuin hal yang sama.

Yuk, tonton dulu sebelum lo menyesal karena enggak ngajak mantan balikan!

Love in the Time of Cholera (2007)

Film ini diangkat dari buku berjudul sama karangan Gabriel Garcia Marquez. Kisahnya mengenai cinta seorang cowok sepanjang derita kolera melanda alias lama banget, sampai mati bahkan. Florentino Ariza, sang tokoh utama, bertemu dengan Fermina Daza pada saat remaja. Pada pertemuan pertama itu, keduanya langsung jatuh cinta. Setelah itu, mereka jadi sahabat pena dan sering curi-curi pandang saat di gereja.

Sayangnya, bokapnya Fermina enggak menyetujui hubungan keduanya. Soalnya, Florentino bukan orang kaya. Perbedaan kastanya jauh sama keluarga Fermina. Akhirnya, waktu berlalu dan sikap Fermina ke Florentino pun berubah.

Dia jadi dingin dan nganggap bahwa cintanya ke Florentino waktu remaja cuma cinta monyet yang penuh ilusi. Apalagi, menurut dia, Florentino itu ternyata cowok payah yang enggak bisa berjuang buat hidupnya sendiri. Dia pun menikah sama orang yang sekasta sama dia, Juvenal Urbino, sang dokter.

Meskipun Fermina udah nikah, Florentino tetap menyimpan cintanya buat dia. Namun, buat ngelupain Fermina, dia berkencan dengan lebih dari 600 cewek sampai jadi pecandu seks! Inilah kelemahan Florentino: enggak tegas sama dirinya sendiri. Bahkan, saat udah jadi mapan, Florentino tetep susah buat ngelupain Fermina.

Sementara itu, Fermina menjalani kehidupan pernikahannya dengan Urbino dan sesekali mengingat bayangan Florentino. Waktu suami Fermina meninggal, Florentino nungguin Fermina di rumahnya sambil bilang bahwa setelah lebih dari 51 tahun, inilah saat-saat yang dia tunggu. Fermina marah meski di dalam lubuk hatinya, dia masih cinta sama Florentino.

Nah, coba, lo renungin. Lo benar-benar sayang sama gebetan atau pacar lo sekarang atau ngejadiin si dia pelarian aja dari bayang-bayang sebelumnya? Jangan kayak Florentino yang obsesif, ya. Soalnya, lo bakal nyakitin orang lain yang lo jadiin pelarian.

Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004)

Aktor Jim Carrey identik sama peran-peran kocak dan nyeleneh. Namun, di Eternal Sunshine of the Spotless Mind, dia justru jadi cowok introver nan melankolis. Ngebawain sosok Joel Barish dengan baik, Carrey enggak bikin lo terpingkal-pingkal, melainkan merenung.

Joel dan seorang cewek bernama Clementine Krucynski berdua jatuh cinta. Berbeda sama Joel, Clementine adalah cewek yang ekstrover dan cenderung impulsif. Awalnya, hubungan mereka seru karena keduanya saling ngelengkapin. Lama-lama, Clementine muak sama sifat Joel dan mereka pun bertengkar. Enggak cukup sampai di situ, Clementine pun mendatangi perusahaan bernama Lacuna Inc., sebuah perusahaan yang bisa menghapus ingatan akan sesuatu, demi ngelupain Joel.

Mengetahui hal itu, Joel ngamuk dan ikut ngehapus ingatannya tentang Clementine. Namun, karena yang namanya cinta itu eksis, alam bawah sadar mereka masih saling tertarik. Suatu hari, entah kenapa, Joel pengen banget pergi ke pantai. Di sana, dia ketemu sama Clementine dan mereka saling jatuh cinta (lagi). Saat tahu bahwa mereka dulunya sepasang kekasih, mereka berdua bingung karena belum nemuin alasan buat muak satu sama lain.

Di akhir cerita, Clementine bertanya, apa yang bakal terjadi kalau suatu saat dia bosan sama Joel dan hal yang sama terulang. Joel pun bilang kalau hal itu bukan masalah selama dia sekarang masih bisa bersama Clementine. Yang namanya perasaan, mau dihapus kayak apa, kalau pada dasarnya kita tertarik sama seseorang, ya, tertarik aja.

Forrest Gump (1994)

Forrest Gump adalah tokoh kesayangan banyak orang. Bukan cuma karena dia lugu dan bodoh dengan IQ 75, tapi karena dia adalah orang yang berkomitmen tinggi, termasuk dalam cinta.

Forrest nyadar bahwa yang bisa dia andalin cuma kecepatan larinya. Akhirnya, dia mencoba berbagai hal, mulai dari jadi tentara Perang Vietnam, atlet pingpong, sampai pengusaha tambak udang. Kebodohan dia inilah yang bikin dia berani mencoba sampai sukses dalam segala hal.

Soal cinta, Forrest cuma cinta sama Jenny, cewek yang selalu nyemangatin dia dari kecil waktu dia di risak (bully) sama teman-temannya. Meskipun dulu Forrest harus pakai alat bantu jalan dan dianggap idiot, Jenny selalu mau menemani dia. Sayangnya, saat beranjak dewasa, hidup Jenny malah enggak karuan. Mulai dari seks bebas sampai konsumsi obat-obatan terlarang, semua dicoba sama Jenny. Hal ini adalah dampak trauma masa kecil Jenny karena bokapnya doyan mukulin dia.

Jenny datang dan pergi begitu saja di kehidupan Forrest. Perasaan Jenny buat Forrest pun enggak jelas. Namun, Forrest selalu nerima Jenny dengan tangan terbuka. Keduanya sempat tinggal bareng. Namun, Jenny pergi lagi tanpa alasan. Pada akhirnya, Forrest ketemu lagi sama Jenny yang udah punya anak serta mengidap pengakit yang bikin umurnya enggak panjang lagi.

Ngelihat kehidupan Forrest, mungkin lo bakal gemas dan mikir bahwa Forrest itu cowok bodoh. Namun, kebodohan yang disertai usaha keras inilah yang justru bikin Forrrest pada akhirnya memetik hasil yang manis.

Titanic (1997)

Kalau ngomongin cinta hingga akhir hayat, kayaknya susah, deh, kalau enggak ngebahas Titanic. Kisah cinta beda kasta antara Rose dan Jack ini memang sering jadi ikon cinta sejati.

Rose, seorang anak orang kaya, pergi ke Amerika Serikat bersama keluarganya menaiki Titanic yang diklaim sebagai kapal terkuat di dunia. Di sana, dia ketemu Jack, seorang cowok miskin yang dapet tikat kelas tiga karena menang judi. Mereka saling jatuh cinta. Bahkan, Rose bilang bahwa setibanya di Amerika Serikat, dia bakal ninggalin keluarganya yang sombong dan ikut Jack.

Sayangnya, Jack meninggal karena kedinginan saat mereka terapung di Laut Atlantik. Jack rela berpegangan di patahan kayu dan menahan dingin yang mendera tubuhnya. Cerita Rose dan Jack ini berdasarkan kisah nyata. Meskipun pada akhirnya menikah sama orang lain, Rose masih menyimpan kenangan tentang Jack. Soalnya, cowok sederhana ini bisa bikin dirinya nemuin kebahagiaan dunia. Cinta itu memang enggak memandang kasta, ya!

Oh, ya, gara-gara film ini, lagu “My Heart Will Go On” yang dibawain oleh Celine Dion dan jadi soundtrack jadi lagu yang sering diputar saat Valentine dan resepsi pernikahan. Padahal, liriknya bukan tentang penyatuan cinta.

Film-film di atas bisa jadi pelajaran buat lo buat enggak ragu-ragu memperjuangkan dia yang lo cintai. Kalau lo ragu, lo bisa aja menyesal berkepanjangan. Saat lo menyesal, semuanya udah terlambat. Lo pun berharap bisa menghapus ingatan. Sayangnya, dunia nyata enggak nawarin hal seinstan itu buat nyembuhin luka di hati.

Nah, di antara lima film di atas, mana yang jadi favorit lo? Atau, lo punya film kesukaan lain yang ngerefleksiin kisah cinta sejati lo yang harus kandas?